Membangun Kepekaan Sosial Sejak Dini

Kami berasal dari keluarga sederhana. Ayah, ibu, dan kami anak-anak dari 5 bersaudara. Saya adalah anak paling bungsu.

Ibu saya membantu ekonomi keluarga dengan menerima jahitan. Disamping itu ibu tetap juga memasak untuk kami.

Saya ingat sekali menu kudapan favorit adalah roti isi dipanggang di wonder pan yang bulat. 1 wonder pan bisa berisi 15 roti, bisa isi daging campur wortel, keju, dll.

Enak sekali di makan hangat-hangat. hmmm… saya jadi ngiler membayangkan warna coklat bagian atas roti dan kami harus menyobeknya jika ingin mengambil 1 bagian. Kami ada ber-7 dan kadang ada 1 asisten rumah tangga.

Ingat didikan ibu saya, jika makan ingat-ingat orang belakang. Artinya, jangan lupa menyisihkan untuk anggota keluarga yang lain termasuk si mba (asisten rumah tangga). Jika roti ada 15 berarti dengan 8 anggota rumah, maka akan tersisa 7. Kadang jika masih kepingin, saya datang ke ibu dan menanyakan apa boleh nambah lagi? (dengan wajah memelas… hahaha) Biasanya jatah ibu yang saya dapatkan. Ibu dimana-mana sama ya… mengalah untuk anak.

Inti dari pembelajaran ibu. “Ingat orang belakang… Mendidik kami menjadi orang yang peka sosial. Terima kasih ibu”

Kisah inspiratif dari para orangtua.